Bagaimana Menanggapi Perpecahan Umat Islam?

“Beruntunglah orang-orang asing yang mereka memperbaiki perkara-perkara yang telah dirusak oleh manusia sesudahku dari sunnahku.” (HR. At-thirmidzi)

PERPECAHAN UMAT ADALAH TAKDIR ALLAH

perpecahan umat adalah sebuah takdir Allah subhanahu wa Ta’ala yang pasti terjadi. sebagaimana yang telah disebutkan dalam beberapa hadist yang mutawatir :

“terpecahnya umat Yahudi menjadi 71 golongan, dan terpecahnya umat Nashrani menjadi 72 golongan, dan akan terpecah umat ini menjadi 73 golongan.” (HR. Ahmad dan lainnya).

MENSIKAPI PERPECAHAN UMAT

Allah subhanahu wa Ta’ala yang telah mentakdirkan terjadinya perpecahan umat telah memberikan bimbingan agar umat tidak tenggelam dalam fitnah ini. sebagaimana sabda Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist yang masyhur:

“…. Barang siapa di antara kalian berumur panjang, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. maka tetaplah kalian berpegang teguh dangan sunahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk…..” (HR. tirmidzi dan Nasa’i)

1. maka sikap kita yang pertama adalah tetap berpegang teguh pada sunnah Rasulullah dan para khulafaur rasyidin ( khalifah yang empat) yang mendapat petunjuk

dalam beragama seseorang dituntut untuk berpegang dengan ajaran nabi dengan sahabatnya yang murni. walaupun pemahaman itu berbeda dan ditentang kebanyakan manusia, maka tetaplah berpegang kepadanya.

sungguh Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam telah memberi tahu ajaran islam yang murni ini pada awalnya adalah asing dan pada suatu saat nanti kembali diangap asing (diriwayatkan oleh muslim). yaitu sebuah keadaan dimana orang2 yang berpegang teguh dengan ajaran nabi seakan menggenggam bara api, barang siapa yang beramal pada jaman semacam ini maka pahalanya seperti pahala amalan 50 orang sahabat, sebagaimana telah disbutkaan dalam sabda nabi :

“akan ada pada manusia suatu jaman. orang yang sabar (istiqomah) diatas agamanya pada jaman ini seperti menggenggam bara api.” (HR. trimidzi)

“sesungguhnya di belakang kalian ada suatu hari, kesabaran di dalamnya seperti memegang bara api, oran yang beramal pada hari-hari semacam ini pahalanya seperti 50 orang yang beramal seperti amalanya kalian.” (HR . albaghawi)

imamberkata imam ath thibi : “maknanya sebagaimana tidak mampunya seseorang pemegang bara api untuk sabar kerena menghanguskan tangannya. seperti itu pula keadaan seorang yang beragama, pada hari itu, tidak mampu tetap diatas agamanya karena banyaknya pelaku maksiat, tersebarnya kefasikan dan melemahnya iman.”

2. hal kedua yang harus kita lakukan ketika fitnah ini terjadi adalah meninggalkan semua golongan (firqah) yang ada.

sebagaimana telah diriwayatkan oleh sahabat hudzaifah Radiyallahu ‘anhu :

“bahwasanya ketika manusia bertanya kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan, karena khawatir akan menimpa diriku, maka aku berkata, “wahai rasulullah sesungguhanya kami dahulu dalam keadaan jahilliyah dan kejelekan. maka Allah datangkan kepada kami kebaikan, maka apakah setelah kebaikan itu ada kejelekan ? ” beliau menjawab, “ya”. maka aku berkata. ” apakah setelah kejelekan itu ada kebaikan? ” beliau menjawab, “ya, tapi padanya ada dakhan (kotoran)” aku berkata” apa dakhannya? “. beliau menjawab, ” kaum yang mengerjakan sunnah (tuntunan dan ajaran syariat ) bukan dengan sunnahku, dan memberi petunjuk bukan dengan petunjukku, engkau kenali mereka tapi engkau ingkari”. maka aku berkata “apakah setelah kebaikan itu akan muncul kejelekan lagi? ” beliau menjawab “ya, adanya dai-dai yang berada diatas pintu jahannam, barang siapa yang memenuhi panggilannya akan dilemparkan keneraka jahannam”. aku berkata “wahai Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam terangkan ciri-ciri mereka”. beliau berkata, “mereka adalah suatu kaum yang kulitnya sama dengan kulit kita, bahasanya juga sama dengan bahasa kita”., aku berkata ” apa yang kau perintahkan bila aku mengalami jaman seperti itu?” beliau berkata ” berpeganglah dengan jama’ah muslimin dan imam mereka.” aku bertanya, “bagaimana jika tidak ada jama’ah dan imam?” beliau menjawab ” tinggalkan semua firqah, meskipun kamu harus menggigit akar pohon hingga kamu mati dan kamu dalam keadaan seperti itu.” ” (HR. bukhari dan Muslim)

3. hal ketiga adalah senantiasa menyeru manusia kepada al haqq (kebenaran). saling bertawashaw bil haqq wa tawasaw bish-shabr (saling menasehati dengan kebenaran dan saling menasehati dengan kesabaran)

inilah kewajiban yang tetap ada pada diri kaum muslim kepada sesama mereka sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah :

” Dan saling nesihat-menasihatilah engkau dengan kebenaran dan dengan kesabaran.” ( QS AL ‘Ashr : 4 )

dalam mensikapi perbedaan pemahaman yang ada, maka kewajiban ini tetap wajib diamalkan.

akan tetapi pada perkara yang bertentangan dengan kesepakatan para ulama’ dan kaum muslimin, atau menyelisihi aqidah dan manhaj nabi yang dikuatkan dengan dalil yang benar, maka tidak ada lagi toleransi dan penghormatan.

sedangakan jika perbedaan masalah fiqih atau pun hal-hal lain yang sifatnya ijtihadiyah para ulamamaka wajib diantara kaum muslimin untuk mempertemukan perbedaan itu dan berusaha semampu mungkin untuk mencari yang lebih dekat kepada kebenaran. bila upaya ini tidak bisa dilakukan hendaklah masing-masing memahami menurut keyakinan masing-masing tanpa saling cela dan tetap saling menghormati seeperti yang banyak dipraktekkan oleh para sahabat.

4. hal keempat yang mesti kita lakukan di tengah-tengah perpecahan ini adalah tetap berupaya untuk menjaga persatuan di antara kaum muslimin

walaupun perpecahan umat merupakan kepastian, tetapi kita berupaya untuk menjaga kesautan umat ini.

dan perintah bersatu disini bukanlah persatuan kelompok ( firqah ) tertentu yang kemudian saling membanggakan kelompoknya masing-maisng. dan menganggap yang diluar kelompok bukan saudara dan lantas disikapi dengan sikap seperti orang kafir. akan tetapi adalah kesatuan kaum muslim yang berlandaskan aqidah dan manhaj ahlus sunnah wal jama’ah.

lantas bila tidak boleh bergolong-golong, apa yang kita lakukan ?

sebuah manhaj ( cara ) dalam memahami agama

dalam meniti jalan ini, Allah memberi bimbingan :

“…yaitu mereka yang mendengarkan perkataan yang baik, dan mengikuti yang terbaik diantaranya.” ( QS Az Zumar )

maka mencari ilmu dari ahlul ilmi manapun adalah sebuah kebaikan. karena hikmah itu adlah milik muslim yang hilang, maka ambillah ia dari manapun engkau andapatkannya.

berkata sahabat muadz bin jabal :

“……terimalah kebenaran itu apabila engkau mendengarkannya, karena atas kebenaran itu terdapat cahaya.” (HR. Abu Dawud)

tolok ukur kita dalam menilai suatu kebenaran :

  1. ada atau tidaknya dalil tentangnya.
  2. sesuaikah dengan pemahaman para salafush-salih yang Rasulullah menjamin akan kebaikan mereka

seandainya apa yang kita pahami sesuai dengan pemahaman mereka maka itulah kebenaran , maka siapapun yang berada diatas pemahaman ini maka merekalah yang disebut al-firqatun najiyah (golongan yang selamat), dan itulah al-jama’ah.

al jama’ah ialah jama’atul muslimin, yaitu para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan dengan ihsan sampai hari akhir. mengikuti mereka adalah hidayah dan menyelisihi mereka adalah sesat.

semoga Allah senantiasa membimbing umat ini agar selalu membimbing umat ini agar selalu bersatu diatas bendera sunnah, dan berdiri di atas landasan aqidah yang benar, serta menyeru menusia dengan manhaj sunnah dan di atas jalan nubuwwah. dan menghindarkan kita dari bid’ahperpecahan dan kelompk-kelompok yang tidak dibenarkan dalam islam amin..!

diambil dari buletin al ilmu (ponpres imam bukhori) dengan perubahan seperlunya

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum
    Terimakasih banyak,
    Kami telah membaca artikel ini dan memutuskan mengutip sebagian dari artikel ini untuk tugas sekolah kami
    Uweweee(>_<)

    Wa`alaykumussalam.
    maaf salamnya ana ganti yang nyunnah/yang biasa saja. ya tidak apa2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: