Bermuamalah Dengan non Muslim

Nasihat Ulama – Vol. 5, No. 5Mengunjungi Orang-Orang Nashrani dan Memakan Makanan Mereka Pertanyaan: Saya diundang oleh seorang teman sekolah beragama Nashrani ke rumahnya untuk makan. Apa boleh saya memakan makanannya jika saya bisa memastikan bahwa makanan itu halal secara syar’i? Jawaban: Ya, anda boleh memakan apa yang disuguhkan oleh teman bahkan tetangga anda yang Nashrani, baik itu dirumahnya ataupun lainnya jika anda dapat memastikan bahwa makanan itu tidak haram atau tidak mengetahuinya, karena pada dasarnya adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya. Adapun statusnya sebagai seorang Nashrani, tidak menghalanginya untuk itu, karena Allah ta’ala telah membolehkan bagi kita makanan ahli kitab. Sumber: Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, juz. 2, hal.75 Shalat di Rumah orang Nashrani Pertanyaan: Adakalanya ketika tiba waktu shalat, saya sedang berada di rumah salah seorang dari mereka, lalu saya mengambil sajadah saya dan shalat di depan mereka. Apakah shalat saya sah, sementara rumah itu adalah rumah mereka? Jawaban: Ya, shalat anda sah-semoga Allah menambahkan antusias untuk menaati Nya – terutama pelaksanaan shalat yang limaDan seharusnya anda berambisi untuk melaksanakannya secara berjamaah, yang dengan begitu anda memakmurkan masjid sejauh kemampuan. tepat pada waktunya. Sumber: Fatawa Al- Lajnah Ad- Daimah, juz 2, hal 76 Mengucapkan Salam kepada Orang Kafir Pertanyaan: Akhir- akhir ini, sebagai akibat dari interaksi dengan barat dan timur, yang rata- rata kaum kuffar dengan berbagai latar belakang agama, kami melihat mereka berulang kali mengucapkan salam Islam kepada kita saat kita berjumpa dengan mereka dimana saja. Bagaimana sikap kita menghadapi mereka? Jawaban: Telah disebutkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda, “Janganlah kalian memulai kaum Yahudi dan jangan pula kaum Nashrani dengan ucapan salam. Jika kalian menjumpai salah seorang mereka di suatu jalan, himpitlah ia ke pinggir.” (Riwayat Muslim) Dalam sabda beliau yang lain disebutkan, “Jika ada ahli kitab yang mengucapkan salam kepada kalian maka jawablah ‘wa ‘alaikum” (Mutaffaq Alaihi) Ahli kitab adalah kaum Yahudi dan Nashrani. Hukum orang-orang kafir lainnya adalah seperti kaum Yahudi dan Nashrani dalam masalah ini karena setahu kami tidak ada dalil yang membedakan mereka. Dari itu, sama sekali tidak boleh memulai mengucapkan salam kepada orang kafir, jika orang kafir itu yang lebih dulu mengucapkan salam, maka kita membalasnya dengan ucapan ‘wa ‘alaikum’ sebagai pengamalan perintah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Tidak terlarang pula jika setelahnya kita mengatakan kepadanya, “Bagaimana kabar anda?”,”Dan bagaimana kabar anak-anak anda?”Hal ini dibolehkan oleh sebagian ahlul ilmi, di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v. Lebih-lebih jika hal ini bisa mendatangkan maslahat bagi islam, di antaranya adalah untuk menjadikannya suka kepada Islam dan mengajaknya agar mau menerima dakwah Islam, hal ini selaras dengan firman Allah ta’ala, “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cra yang lebih baik.”(An-Nahl: 125). Dan Firman-Nya, “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang Zhalim diantara mereka.”(Al-Ankabut: 46) Sumber: Fatawa Islamiyah, Syaikh Ibnu Baz, juz 1, hal.118. Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Bolehkah kita memulai salam kepada orang-orang kafir? Dan bagaimana kita membalas salam mereka jika mereka lebih dulu mengucapkan salam kepada kita? Syaikh Menjawab: Orang-orang yang datang kepada kita, baik dari timur maupun barat yang non muslim, tidak halal bagi kita untuk memulai mengucapkan salam kepada mereka, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Janganlah kalian memulai kaum Yahudi dan jangan pula kaum Nashrani dengan ucapan salam.”(Riwayat Muslim) Tapi jika mereka lebih dahulu mengucapkan salam kepada kita, maka hendaknya kita mengucapkan seperti salam mereka kepada kita, hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala, “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan kebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).”(An-Nisa’: 86) Ucapan salam mereka dengan ungkapan salam Islam “assalamu ‘alaikum” tidak terlepas dari dua hal: Pertama: Mereka jelas-jelas mengucapkan dengan adanya lam yaitu, assalamu ‘alaikum (semoga kesejahteraan bagimu), maka kita boleh mengucapkan, ‘alaikum salam atau wa alaikum (semoga juga bagimu). Kedua: Jika mereka tidak jelas mengucapkan lam, misalnya mereka mengucapkan, “assamu ‘alaikum”(semoga kematian menimpamu), maka kita mengucapkan, “wa ‘alaikum”(juga menimpamu). Demikian ini, karena dulu kaum Yahudi pernah datang kepada Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengucapkan salam kepada beliau dengan ucapan, “assamu ‘alaikum” mereka tidak jelas mengucapkan lam. As-Saam artinya al-maut (kematian), maksudnya mereka mendoakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mati. Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengucapkan pada mereka , “wa ‘alaikum”. Jadi, jika mereka mengucapkan, “assamu ‘alaikum” maka kita membalas dengan ucapan, “wa ‘alaikum”, maksudnya, semoga kematian itu menimpa kalian pula. Demikianlah yang ditunjukkan oleh As-Sunnah. Adapun memulai salam kepada mereka dengan ucapan salam, maka ini telah dilarang oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sumber: Al-Majmu’ Ats-Tsamin, Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 2, hal. 97-98.

(majalah nikah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: