Konsultasi Ustadz: Arisan Qurban


4 May, 2007

Penanya: Rohman Abu Fathia
Dijawab: Ust. Khairul Wazni, Lc.
(Pengajar Pondok Pesantren Islamic Centre Bin Baz)

Pertanyaan:

Assalamu alaikum wr. wb.

Saya Rohman Abu Fathia ingin menanyakan dua hal:

1. Tentang Arisan Qurban. Di kampung saya beberapa orang karena keinginan yang kuat untuk berqurban tetapi kurang mampu maka diambil cara berpatungan (arisan) tiap bulan sebesar Rp 10.000,00 sebanyak 5 orang sehingga setahun terkumpul Rp 600.000,00 dan digunakan untuk Qurban (kambing) atas nama salah satu peserta arisan. Peserta lainnya menunggu giliran tahun berikutnya. Ada kesepakatan apabila yang sudah berqurban meninggal maka kewajibannya digantikan oleh ahli warisnya.

Bagaimana Pandangan Salaf terhadap cara Qurban seperti itu?

2. Pertanyaan yang pernah disampaikan pada rubrik ini yaitu pandangan salaf terhadap Silaturahmi Trah (silaturahmi keluarga berdasarkan keturunan, bagaimana hukumnya.

Fenomenanya:

  • Pada acara tersebut hanya yang punya pertalian darah yang diundang silaturahmi + beberapa tetangga, padahal dalam Islam semua muslim adalah saudara.
  • Tidak semua trah mengadakan silaturahmi.
  • Umumnya keluar biaya yang lumayan besar untuk hidangan makan.
  • Karena biaya besar untuk keluarga yang kurang mampu merupakan beban dan kadang memilih tidak ikut hadir.

Jawaban Ustadz:

Pertama, kalau gambaran arisan yang antum tanyakan tersebut seperti itu maka diperbolehkan, karena sudah menjadi kesepakatan bersama dari anggota arisan yaitu memberikan uangnya kepada yang mendapat giliran berkurban yang menjadi haknya, bukan atas nama anggota arisan yang ikut di dalamnya. Dan ia mendapat pahala ibadah kurban atas dirinya Insya Allah, kalau ia ikhlas. Berbeda dengan orang yang patungan (arisan) berkurban melebihi jumlah yang ditentukan di dalam syariat dan kurban atas nama bersama (Misal: orang yang berkurban 1 ekor sapi untuk 100 orang seperti yang sering terjadi di sekolah-sekolah -ed). Maka mereka tidak mendapat pahala ibadah kurban tersebut karena tidak sesuai dengan syariat, tetapi mereka hanya mendapat pahala sedekah.

Kedua, silaturahmi yang demikian tidak ada larangan, karena tujuannya adalah untuk mempererat hubungan kekeluargaan senasab, asalkan di dalamnya tidak ada kemungkaran, tidak menjadi beban/keberatan kepada anggota keluarga yang lain misalnya kalau tidak ikut acara tersebut akan dikucilkan/diputus hubungannya. Wallahu a’lam.

Satu Tanggapan

  1. Assalamu`alaikum wr wb

    InsyaAllah swt ini sangat berguna sekali bagi para da`i di sekolah-sekolah untuk ditegaskan bahwa cara yang biasa mereka tempuh dapat diperbaiki.. Semoga teman-teman MKI SMA 5 tambah semangat mencari dan mengamalkan `ilmu..
    Wassalamu`alaikum wr wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: