Bahasan Utama

Menggugat Para Penganut Hedoisme

 

Assalamu’alaikum sobat?! Alhamdulillah, Allah ternyata masih mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, bulan nan suci yang penuh barakah dan keistimewaan. Yang jika kita beribadah di dalamnya, akan dilipat gandakan menjadi berlipat – lipat pahala. Tapi, sudahkah kita ‘menabung’ di bulan Ramadhan ini? Kenyataannya ternyata masih banyak di anatara kita yang terlalu mementingkan ‘dunianya’ ketimbang susah – susah beramal di bulan ini. Rasa malas pun timbul jika akan melakukan suatu ibadah, tapi jika melakukan aktivitas dunia, nonton tv misalnya, rasa lapar tak pernah digubris. Sebenarnya, gimana sih ‘dunia itu di mata Islam??

 

Yah, memang seperti itulah dunia kita, tak lain dan tak lebih merupakan ajang permainan, berhias gemerlap dan kebanggaan akan generasi dan materi.

Inilah dunia yang difirmankan oleh Allah SWT, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasa, dan bermegah – megahan di antara kamu serta berbangga – bangga tentang banyaknya harta dan anak.” (Al – Hadid :20)

Dunia memnag gemerlap indah. Tapi ia adalah sesuatu yang dicela. Nabi SAW pernah lewat di sebuah pasar sementara orang – orang ada di sekitarnya. Lalu beliau melihat seekor anak kambing cacat yang sudah mati. Nabi memegang telinga anak kambing itu seraya berkata, “Siapa yang mau membeli ini?” Orang – orang menjawab, “Kami tidak ingin!” Nabi berkata lagi, “Adakah yang mau memilikinya?” Mereka menjawab lagi,”Demi Allah, andaikata pun masih hidup,(kami tidak mau), karena ia cacat, apalagi sudah mati!”Kemudian Rasulullah berkata yang artinya, “Demi Allah, dunia itu lebih hina di mata Allah ketimbang anak kambing ini.”(Riwayat Muslim). Sudah terbayang kan bagaimana hakekat dunia ini? Sebenarnya pencelaan itu bukan terhadap materinya, melainkan terhadap perilaku manusia yang sering ‘keliru’ memanfaatkan nikmat dan melakukan kerusakan.

 

Dua Golongan Menghadapi Dunia.

Sebagian orang mempersepsikan dunia dalah akhir dari hidup ini;tak ada apapun setelah dunia ini. Mereka yang seperti ini term,asuk dalam firman Allah, yang artinya,”Sesungguhnya orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia dan merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang – orang yang melalaikan ayat kami, mereka itu tempatnya ialah neraka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.”(Yunus: 7-8)

Orang – orang ini cenderung hanya memuaskan nafsu belaka dan sekedar menikmati dunia saja. Di sis lain, terdapat mereka yang sadar akan tanggung jawab mereka terhadap hidup sesudah mati. Mereka selalu berlomba – lomba mencapai surga allah. Mereka hanya mencukupkan diri dengan bekal perjalanan yang lebih panjang seperti yang disabdakan rasulullah, “Apalah aku dan dunia! Seungguhnya permisalan aku dengan dunia adalah seperti seorang pengendara yang tidur di bayangan sebuah pohon. Kemudian pergi dan meninggalkan pohon tersebut.”(Riwayat Ahmad, Tirmidzy, dan Ibnu majah).

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Dunia itu sesungguhnya bukan tempat yang kekal untuk kita. Allah sendiri telah menakdirkannya fana, dan kepada para penghuninya telah digariskannya hanya melewatinya saja.”

Yunus bin Abi Ubaid menjelaskan permisalan dunia,”Kehidupan dunia hanya bias disamakan dengan orang yang tidur, dalam mimpinya melihat hal-hal yang ia senangi sekaligus ia benci, tapi ketika sedang menikmatinya, tiba-tiba ia terjaga.” Bisa kita bayangkan bagaimana menyesalnya kita saat terjaga dari mimpi yang indah. Jangan sampai kita merasakan penyesalan yang sama saat terjaga dari dunia ini, menjumpai ajal.

 

Sekedar untuk bekal

Dunia memang asset bagi umat manusia. Di dalamnya terdapat sebuah kekayaan yang merupakan sumber penghidupan manusia. Dan setiap orang telah dijatah kebutuhannya sebagaimana yng dianjurkan. Namun ada juga yang masih mengambil jatah orang lain karena sifat rakusnya, orang yang seperti ini adalah orang yang tercela. Begitu pula orang yang terlalu menahan diri untuk memenuhi kebutuhan, maka yang demikian ini juga tak masuk akal dan tak beralasan. Permisalan seekor unta tak akan bias jalan kecuali keperluannya terpenuhi. Maka jalan yang paling tepat ialah mengambil jalan tengah, yakni mengambil bekal darri kehidupan dunia sekedar yang dibutuhkan untuk perjalanan saja.

Ketika Abu Shafwan Ar-Ru’ainy ditanya,”Apakah dunia yang Allah cela dalam Al-Qur’an, dan yang harus dijauhi oleh manusia yang berakal?”Dia menjawab,”Segala yang Anda senangi di dunia, yang dengannya anda tidak menghendaki kehidupan di akherat itulah yang tercela. Dan segala kenikmatan dunia yang anda senangi, yang dengannya anda menghendaki kehidupan akhirat, maka yang demikian itu tidak termasuk kehidupan dunia.”

Umar bin Abdul aziz pernah berkhutbah,”berapa banyak orang yang membangun dengan kokoh setelah berselang beberapa waktu roboh, dan berapa banyak yang hatinya telah tercuri, ingin hidup menetap akhirnya harus meninggalkannya. Maka usahakanlah perjalanan dari dunia itu sebaik-baiknya dengan bekal terbaik yang Anda miliki. Berbekallah, seungguhnya sebaik – baik bekal adalah takwa. Bila dunia memang bukan tempat menetap bagi orang mukmin, maka dia harus menempatkan dirinya pada salah satu sikap dari sikap berikut. Harus bersikap seolah orang asungyang menetap di sebuah negeri asingyang tujuannya semata-mata mengumpulkan bekal untuk pulang ke tanah airnya, atau bersikap seakan – akanseorang pengembara yang sama sekali tidak menetap tapi sepanjang hari ia terus berjalan menuju sebuah negeri tempatnya menetap kelak.”

Al-Hasan menjelaskan sifatnya orang mukmin terhadap dunia,”alangkah nikmatnya kehidupan duni bagi orang – orang mukmin. Karena mereka senantiasa berbuat dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan surga. Dan sungguh keji dunia bagi orang kafir dan munafik, karena mereka membiarkan waktu malamnya berlalu, sementara bekalnya akan membawanya ke neraka.”

Marilah kita lihat sendiri. Sudahkah dunia ini kita jadikan tempat mengumpulkan bekal? Terlebih ini merupakan bulan yang penuh ampunan, mari kita hidupkan waktu – waktu kita, daripada untuk hal yang tiada manfaatnya bagi kehidupan akhirat, akan lebih baik jika digunakan untuk beribadah menambah bekal perjalan kita. Ibnu Umar ra pernah berkata,”Apabila kamu berada di waktu sore janganlah kamu menunggu hingga waktu pagi, dan apabila kamu berada di waktu pagi, janganlah menunggu hingga waktu sore. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, dan manfaatkanlah waktu hidupmu sebelum datang kematianmu.”(Riwayat Bukhari)

Jangan kita sia – siakan waktu puasa kita ini hanya dengan merasakan lapar dan haus, karena kita termasuk yang merugi jika seperti itu. Mari berlomba – lomba di bulan Ramadhan ini untuk mendapatkan kebaikan, bahkan Lailatul Qadr. Tahukah kalian Lailatul Qadr itu? Maam yang lebih baik dari 1000 bulan. Wallahu a’lam. (elfata)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: